Sloka Institute Berikan Anugerah Jurnalisme Warga

anugerah-jurnalisme-warga

Sloka Institute dan Bali Blogger Community memberikan Anugerah Jurnalisme Warga untuk pertama kalinya di Bali. Penghargaan diberikan terhadap karya-karya jurnalisme warga yang dimuat di BaleBengong.net, media jurnalisme warga yang dikelola Sloka Institute dan BBC, serta figur-figur pilihan publik yang dianggap melakukan kerja-kerja untuk publik namun belum banyak dikenal.

Pemberian penghargaan dilakukan pada Sabtu (12/11) kemarin di Taman Baca Kesiman, Denpasar.

Ada empat kategori dalam Anugerah Jurnalisme Warga 2016 yaitu tulisan, foto dan ilustrasi, video, dan suara (audio). Sebanyak 44 karya tulis, video, foto, ilustrasi, dan suara memperlihatkan suara-suara yang tak terdengar di Bali.

Tiga juri yaitu Asana Viebeke Lengkong (pendiri I am An Angel), I Wayan Juniarta (Redaktur The Jakarta Post – Bali) dan Roberto Hutabarat (aktivis sosial) memilih tiga karya terbaik di masing-masing kategori.

Pemenang pertama kategori tulisan adalah I Wayan Willyana, seorang warga Batubulan, Gianyar. Ia mengisahkan Dadong Koda dan warungnya yang menjadi jejak sejarah perubahan sosial, ekonomi, dan ideologi di Bali sejak 1965 sampai sekarang termasuk tekanan sosial ekonomi masyarakat setempat akibat pariwisata massal.

“Ketika pembangunan fisik dan alih fungsi lahan makin tak berpihak pada ruang publik, melalui jurnalisme warga Balebengong memberi keberpihakan dan ruang kepada warga untuk berbagi dan bersuara,” ujar Willyana, pekerja pariwisata ini.

Karya tulis terbaik kedua adalah Widyartha Suryawan yang menulis narasi kuasa para orang kaya era Orde Baru. Ia melihat dan merasakan sendiri kegelisahan warga sekitar Bukit Pandawa, Kuta Selatan menghadapi tekanan akibat cepatnya perubahan geografis dan pembangunan industri pariwisata. Ketika lapangan golf dibangun, warga justru makin sulit mengakses bebukitan yang dulu menjadi tempat bermain dan beternak.

Untuk kategori foto dan ilustrasi pemenangnya adalah seorang ibu Ivy Candra yang tekun mengasuh putranya yang mengidap autisme untuk mendapat akses pendidikan inklusif. Melalui serial esai foto ponsel ia menulis cerita yang memperlihatkan perjuangan keduanya.

Karya terbaik lain adalah Gus Dark dan Wayan Martino.

Di kategori audio ada Maylina Triastuti, pelajar SMA 3 Denpasar, mengisahkan tentang makin hilangnya generasi muda yang mau bertani di Bali. Karya ini lebih unggul dari dua karya pelajar lainnya yaitu Vira Duarsa dan Ardi Mahendra.

Adapun di kategori format video karya Hadhi Kusuma menjadi karya terbaik dengan judul Slinart, Street Art, dan Eksploitasi Pariwisata Bali. Video dari peserta-peserta lain menceritakan hal yang serupa, tentang bagaimana kondisi Bali saat ini akibat perubahan sosial budaya ekonomi, termasuk maraknya seni baru di Bali yaitu street art.

Activism Journalism
“Penghargaan ini perlu untuk terus didorong sebagai diseminasi informasi sekaligus meningkatkan kualitas manusia dalam wujud perubahan sosial terutama bagi warga-warga pedalaman Bali,” kata Viebeke.

Dia memberikan contoh karya dari Made Selamat warga di Tulamben, Karangasem, yang menulis tentang krisis air di desanya. “Kekuatan ceritanya adalah karena tulisan itu dibuat oleh warga yang mengalami sendiri krisis tersebut,” tambahnya.

Karena itu, bagi Viebeke, karya-karya warga juga diharapkan turut mendorong activism journalism terutama untuk mengkounter kebijakan pemerintah dan pelaksanaan program masyarakat di lapangan.

Adapun Roberto Hutabarat, yang juga mantan pegiat pers mahasiswa Universitas Udayana, mengatakan berbagai ragam karya tulis, foto, video dan suara yang diikutkan dalam lomba jurnalisme warga ini adalah sebuah bentuk suara subaltern.

“Walaupun tidak semua, namun kebanyakan karya-karya yang saya baca dan saksikan, terutama karya yang bagus-bagus, nampak sekali bagaimana perjuangan kelas sedang bergolak secara dinamis,” katanya.

Menurut Roberto menyaksikan beragam suara dan cara pandang yang diangkat dalam karya jurnalisme warga ini kita bisa melihat betapa masih banyaknya harapan dan kecerdasan yang muncul dari warga biasa yang hidupnya terbiasa terpinggirkan, marjinal dan tertindas.

”Suara-suara warga kelas subaltern ini pada dasarnya jarang atau bahkan tidak didengar atau tidak mau didengar oleh elite-elite atau kelas-kelas penguasa,” kata Roberto.

Selain memberikan kepada karya-karya terbaik, Sloka Institute dan BBC juga memberikan penghargaan Warga Bersuara untuk tiga tokoh yang bersuara pilihan publik.

Mereka adalah Kadek Dwi Armika, seniman layangan tradisional Bali yang mengombinasikan material ramah lingkungan dan karyanya banyak dikoleksi museum luar negeri. Kemudian Linda Anugerah, perempuan yang melakukan kerja kemanusiaan dengan reaksi cepat setelah mendapat laporan di sosial media. Berikutnya Ida Bagus Kade Suwartama, Kelian Dusun Masen yang melakukan wujud rekonsialiasi dengan menggali kubur korban pembantaian massal peristiwa 65 di banjarnya, Kabupaten Jembrana.

Ada juga dialog Musik Bersuara bersama anak muda musisi Bali yang bersuara lewat lagu, yakni Mr HIT dan Aya dan Laras duo remaja asal Nusa Penida.

Melalui Anugerah Jurnalisme Warga, Sloka Institute ingin terus mendorong dan mengajak untuk aktif bersuara melalui berbagai media yang ada.

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://www.sloka.or.id/sloka-institute-berikan-anugerah-jurnalisme-warga-pertama/
Twitter
Instagram

Leave a Reply