AJI Denpasar – Sloka Institute Rilis Hasil Tracking Calon Komisioner Komisi Informasi Bali
DENPASAR, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar bersama Sloka Institute merilis tracking serta hasil fit and proper test terhadap 12 calon anggota Komisi Informasi Publik (KIP) Bali. Hasil penilaian ini selanjutnya akan diserahkan ke DPRD Bali sebagai masukan untuk selanjutnya diserahkan ke Gubernur untuk memilih 5 komisioner Bali.
Dalam melakukan pernilaian terhadap calon komisioner, ada beberapa pertimbangan. Pertimbangan itu diantaranya soal pengalaman dan kemampuan berorganisasi, kemudian komitmen bekerja sepenuh waktu, integritas pribadi, kemudian kemampuan komunikasi calon.
“Hasil ini akan kita serahkan kepada DPRD Bali, sebagai bahan pertimbangan untuk memilih calon komisioner,” kata Ketua AJI Denpasar Rofiki Hasan disela-sela media Breafing Pembentukan Komisi Informasi Provinsi Bali pada Jumat (16/12) di Wisma Bumi Asih Jl Raya Puputan Denpasar. Dalam penilaian ini, AJI bersama Sloka Institute juga mempertimbangkan calon komisioner dalam menjawab pertanyaan yang diajukan seperti kedalaman wawasan, ketrampilan komunikasi dan human relation, serta beberapa indikator lainnya. Dari 12 calon komisioner nantinya akan diambil 5 orang untuk menduduki jabatan selaku anggota komisioner informasi di Bali serta lima lagi sebagai cadangan. Mereka akan menduduki jabatan tersebut selama empat tahun.
“Jika komisi ini sudah terbentuk, maka merekalah yang nantinya akan menangani sengketa informasi. Jadi jika ada masyarakat yang dipersulit dalam mendapatkan informasi di lembaga publik, maka bisa dilaporkan ke KIP Bali,” ulasnya. Lembaga publik kata dia adalah lembaga yang dibiayai negara baik dari APBD maupun APBN serta lembaga yang mendapatkan bantuan dari masyarakat. Berikut hasil fit and proper test versi AJI, inilah ranking serta nilai masing-masing calon komisioner. Gunadjar, Raka Suwana, kemudian IB Narendra ketiganya mendapatkan skor yang sama yakni 240. Kemudian peringkat selanjutnya adalah Anjasmara dengan skor 235 disusul kemudian Agus Astapa dan Luh Putu Anggraeni yang sama-sama mengemas skor 225. Ranking selanjutnya diduduki oleh calon komisioner lain seperti Legawa Partha dan Gusti Bagus Wirajasa yang sama-sama mengantongi skor 220 serta beberapa skor yang lebih rendah lainnya.
Penilaian itu berdasarkan ketrampilan komunikasi dan human relations, kemudian kedalaman wawasan serta pengalaman manajerial dan pendidikan. Diharapkan kata Rofiki, lembaga publik di Bali untuk segera membentuk pejabat pengelola Informasi Publik, apalagi uu 14/2008 tentang keterbukaan informasi publik sudah lama disahkan. “Kita mendesak agar lembaga public di Bali seperti seluruh SKPD segera menyesuaikannya,” harapnya.
Trackbacks
There are no trackbacks on this entry.


Comments
There are no comments on this entry.