Skip to content

Parlemen Muda Magang di DPRD Bali

Parlemen Pemuda

Minggu kedua di Bulan Januari 2010 ini adalah masa yang mendebarkan untuk tujuh orang peserta Program Parlemen Pemuda Indonesian Parliamentary Center (IPC) dan Sloka Institute. Mereka memulai simulasi menjadi anggota DPRD Bali, dengan tugas, hak, dan kewajiban terbatas, seperti yang disepakati penerima magang dan peserta.

Tujuh peserta magang terpilih itu adalah I Wayan Sugita, SE berpasangan dengan Ida Bagus Putu Sukarta, SE dari Partai Gerindra. Lalu I Gusti Ngurah Agung Eka Bayu Putra berpasangan dengan anggota DPRD dari PDIP, I Nyoman Parta. Ketiga, I Made Arka, S.Pd dengan Ngakan Made Samudra, SH dari Partai Demokrat, dan Ni Luh Putu Srijoni, SS dengan Tjokorda Raka Kerthyasa, S.Sos, M.Si dari Golkar.

Berikutnya I Gusti A.Agung Putri Singarsa dengan I Wayan Tagel Arjana, ST dari PNBK, berikutnya I Gusti Ngurah Lanang Oka dengan I Komang Nova Sewi Putra (Ketua Fraksi Mandara Jaya dari Pakar Pangan). Terakhir, I Made Andika Suteja, ST berpasangan dengan Gede Ngurah Wididana dari Partai Hanura.

“Minggu pertama harus adaptasi, karena walau satu partai belum tentu kenal,” ujar Made Arka yang baru bertemu dengan seniornya di Partai Demokrat. Arka menjadi salah satu peserta terbaik dalam rangkaian pelatihan dua minggu sebelum masa magang. Dalam pelatihan yang melibatkan 27 peserta itu, dipih dua nominasi dari masing-masing partai. Lalu, nominasi ini diserahkan ke partai untuk dipilih, termasuk memilih calon penerima magang. Karena itu, sebagian besar peserta magang terpilih tak kenal atau akrab dengan penerima magang yang ditunjuk partai.

Arka memerlukan waktu dua hari, sebelum mulai mengenal prioritas kerja Ngakan Samudra di DPRD Bali dan kemudian mulai tenggelam dengan keasyikan bekerja seperti anggota DPRD ini. “Saya dapat banyak tugas riset data soal rencana perda-perda yang akan dibahas di komisinya,” kata Arka.

Misalnya Rencana Pembentukan BUMD Bali Mandara oleh Gubernur Bali dan Rencana Perda Jasa Usaha Wisata. Hingga tiga bulan masa magang, Arka akan membantu Samudra membuat risalah, sampai mendapingi kunjungan kerja ke luar daerah.

Lain lagi dengan pengalaman Luh Srijoni. Perempuan ramah ini selama satu bulan pertama banyak mengikuti sidak DPRD Bali ke sejumlah tempat. Misalnya soal program Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) ke rumah sakit dan puskesmas di Kabupaten Karangasem.

“Saya kagok, karena sudah seperti anggota dewan,” katanya.

Di sela-sela masa magang yang waktunya 20 jam per minggu ini, Sloka Institute sebagai fasilitator memberikan pelatihan peningkatan kapasitas yang dibutuhkan peserta magang. Misalnya pada pelatihan I yang dijadwalkan dua minggu sekali, peserta magang minta belajar manajamen informasi dan membuat webblog. Misalnya bagaimana membersihkan email dari sampah-sampah seperti notifikasi Facebook, membuat filter, dan lainnya.

Nah, untuk webblog, peserta sepakat membuat satu blog khusus dengan nama http://parlemenmudabali.wordpress.com. Dalam webblog ini diharapkan terdokumentasi semua proses magang sebagai bagian pendidikan politik dan penguatan kapasitas aktivis parpol yang tertarik menjadi anggota DPRD kelak.

I Nyoman Partha, Ketua Komisi IV mengakui DPRD Bali belum memiliki manajemen informasi teknologi untuk mensosialisasikan kerja-kerja anggota dewan pada publik. Saat ini kabar singkat soal DPRD Bali masih nebeng di portal pemprov Bali. Padahal sebagian besar informasi dari gedung rakyat haruslah bisa diakses dengan cepat dan valid. [b]

Spread The Love, Share Our Article

  • Delicious
  • Digg
  • Newsvine
  • RSS
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter

Related Posts

Comments

There are no comments on this entry.

Trackbacks

There are no trackbacks on this entry.

Add a Comment

Required

Required

Optional